Kamis, 07 Mei 2015

review film mestakung


REVIEW FILM MESTAKUNG
Judul Film       : Semesta Mendukung ( Mestakung).
Genre             : Drama.
Tanggal Rilis  : 20 Oktober 2011.
Sutradara       : John De Rantau
Pemain           : Sayev M. B., Dinda Hauw, Revalina S. Temat, Lukman Sardi, Laura Basuki,     Indro (Warkop), Feby Febiola, Ferry Salim, Sujiwo Tejo
Penulis            : Soehendro, John De Rantau, Gangsar Sukrisno, Putut Widjanarko
Studio              : Mizan Productions & Falcon Pictures
Durasi              : 97 Menit
Situs Resmi      : http://www.filmsemestamendukung.com/

Jika kita sungguh-sungguh dan bekerja keras dalam mewujudkan impian kita, maka semesta pun akan mendukung.
Begitu cuplikan dialog dalam Film Semesta Mendukung (Mestakung) arahan John de Rantau yang diproduksi Mizan Productions & Falcon Pictures dan di rilis pada tahun 2011 lalu.
Film Mestakung bercerita tentang seorang anak cerdas asal Madura yang pandai dalam Fisika bernama Arif (Sayev M.B). Ia sangat senang mempelajari fisika. Baginya, fisika bukan sekedar kumpulan teori dan rumus tetapi ilmu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ayahnya, pak muslat (Lukman Sardi) adalah seorang sopir truk serabutan karena ladang garamnya tidak lagi berproduksi. Sedangkan ibunya, salimah (Helmalia Putri) menjadi TKW disingapura selama tujuh tahun namun sudah tiga tahun tidak mengirim kabar.
Seiring dengan berjalannya waktu, Arief yang hanya tinggal bersama ayahnya ini merasakan kerinduan tak terbendung pada sang ibu, hingga menyebabkan ia bekerja di sebuah bengkel sepulang sekolah. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan untuk mewujudkan mimpinya pergi ke Singapura hanya demi bertemu dengan sang Ibu. Di sekolah, Arief yang cerdas dalam hal Fisika menarik perhatian gurunya, Ibu Tari (Revalina S Temat) agar Arief bisa mengikuti lomba fisika tingkat propinsi. Arif menolaknya dengan alasan ia tak bisa mencari uang lagi jika mengikuti lomba tersebut. Namun, berkat bujukan dari seorang sahabat bu Tari yang bernama Pak Tio (Very Salim), akhirnya Arif pun termotivasi untuk mengikuti lomba tersebut.
Description: Conclusion_SemestaMendukung(2011)002
Film ini memiliki alur cerita yang cukup menarik. Namun terdapat beberapa bagian cerita yang yang terkesan ambigu sehingga cukup membingungkan untuk dipahami secara sederhana. Misal, pada saat Arif menolak mengikuti lomba, namun akhirnya memutuskan untuk mengkuti lomba tersebut karena berhasil mendengarkan pembicaraan Bu Tari dan Pak Tio tentang lomba tersebut ke Singapura. Pada scene ini tidak digambarkan secara jelas bagaimana Arief, mendengarkan percakapan kedua orang tersebut. Meskipun Film ini berusaha untuk menghadirkan suasana motivasi, namun sayangnya belum berhasil menyampaikan tujuannya tersebut. karena yang terjadi di premis-premis selanjutnya terkesan monoton dan membosankan. Alur ceritapun berjalan sangat lambat di awal film, namun menjadi sangat cepat ketika klimaks.
Pengambilan gambar dengan latar kehidupan Madura disajikan cukup apik. Terutama ketika adegan karapan sapi yang mencitrakan budaya Madura secara alami, yang memberikan ekspektasi yang baik di awal film. Begitu pula dengan seting tempat lab fisika yang cukup atraktif, serta landscape singapura yang diambil cukup meyakinkan. Setting Olimpiade Fisika Internasionalpun disajikan cukup megah, hanya saja suasana dari kemeriahan serta keseruannya tidak terlalu menggambarkan suatu olimpiade internasional, melainkan hanya seperti panggung seminar ditengah gelanggang olahraga indor yang kursinya tidak dipenuhi oleh penonton. Kehadiran Prof. Yohanes Surya sebagai cameo pun tidak disajikan secara tepat, karena identitasnya hanya disebutkan melalui suara mikrofon dengan gaung yang tinggi.
Sedangkan dari akting cukup banyak yang aktor-aktor ternama yang terlibat dalam film Mestakung ini seperti Fery Salim, Lukman Sardi, Revalina S. Temat, Sudjiwo Tejo.  Namun potensi para aktor tersebut tidak terlalu tergali dengan baik pada film ini. Chemistry yang dibangun antar karakter terkesan monoton, porsi peranpun terlalu ditujukan kepada sang karakter utama yang terkesan menutupi jatah karakter-karakter pendukung lainnya. Ironisnya pemeran utama pada film ini sangat datar dan kaku. Beberapa karakter dalam film inipun terkesan seperti ‘aktor tempelan’ yang hanya numpang lewat saja, semisal Lukman Sardi yang sekedar muncul sebagai ‘bumbu’ dalam dinamika kisah si Arif.  Apalagi Sudjiwo Tedjo yang peranya tiba-tiba hilang tanpa konklusi. Untungnya adanya Indro warkop yang cukup apik memainkan perannya di Film ini, dapat memberikan nuansa segar di tengah jalan cerita yang cukup membosankan. Selain itu, dialeg bahasa Madura yang disampaikan juga cenderung dipaksakan. Sepertinya bagian casting terlalu terburu-buru melibatkan para aktor yang notabene memang kebanyakan bukan etnis madura ini kedalam proses produksi tanpa ada penggodogan dialek madura yang baik terlebih dahulu.
Terlepas dari berbagai kekurangannya, menonton Film Mestakung ini, akan menumbuhkan kecintaan kita pada bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan film ini terinspirasi dari kisah-kisah kegemilangan putra-putri Indonesia mengangkat nama bangsa Indonesia di kancah dunia internasional melalui berbagai olimpiada sains dan fisika yang dirangkum dalam sebuah buku berjudul Mestakung oleh Prof. Yohanes Surya. Begitu pula dengan pengangkatan kearifan lokal budaya madura, yang cukup unik dan layak diapresiasi.

Akhirnya, bisa ditarik kesimpulan bahwa Film Mestakung ini memang memiliki tema yang cukup menarik dan pesan yang cukup inspiratif, hanya saja kurang dieksekusi dengan baik sehingga tidak menyisakan momen apapun yang memorable dihati para penonton. Film Produksi Mizan kali ini mungkin bisa dibilang tidak sesukses film-film sebelumnya seperti laskar pelangi atau Denias, walaupun lebih baik dari Obama Anak Menteng.

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.