Minggu, 29 April 2018

MULTIMEDIA_APRIL

Jelaskan tentang:
  -          Physical layer
  -          Adsl
  -          Sdsl
  -          Wifi
  -          Hal-hal yang dapat mempengaruhi sinyal wifi
  -          Setting ip adress

  1.      PHYSICAL LAYER

Physical layer merupakan sebuah layer OSI pada jaringan komputer yang terletak paling bawah dan physical layer bertugas untuk mendefinisikan media transmisi jaringan ke media fisik atau yang berhubungan dengan perangkat-perangkat fisik serta membawa sinyal ke layer yang lebih tinggi. 



Lapisan ini juga berhubungan dengan masalah listrik, menjaga, mengaktifkan, dan menonaktif hubungan fisik. Lapisan ini juga berhubungan dengan tingkat voltase, waktu perubahan voltase, karakter, jarak transmisi, konektor fisik dan yang lainnya.
Perangkat yang beroperasi atau yang berhubungan dengan Physical layer tersebut adalah repeater, hub, network adapter, dan host bus adapter yang digunakan di storage area network.


Physical layer digunakan untuk mendefinisikan media transmisi jaringan dimana physical layer berfungsi dalam pengiriman raw bit ke channel komunikasi. Masalah desain yang harus diperhatikan disini adalah memastikan bahwa bila satu sisi mengirim data 1 bit, data tersebut harus diterima oleh sisi lainnya sebagai 1 bit pula, dan bukan 0 bit. 
Secara umum masalah-masalah desain yang ditemukan di sini berhubungan secara mekanik, elektrik dan interface prosedural, dan media fisik yang berada di bawah physical layer.Mengirim bit-bit dari satu mesin ke mesin yang lain (secara fisik). Layer satu atau lapisan terbawah dalam OSI seven layer model, yang berhubungan dengan masalah electrical dan mekanisme koneksi dalam jaringan. Physical layer digunakan oleh data link layer. Contoh dari protokol physical layer ini adalah CSMA/CD, token ring dan bus.
Lapisan ini juga berhubungan dengan masalah listrik, prosedural, mengaktifkan, menjaga, dan menonaktifkan hubungan fisik. Lapisan ini juga berhubungan dengan tingkatan karakter voltase, waktu perubahan voltase, jarak maksimal transmisi, konektor fisik, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan fisik. Perangkat yang beroperasi di layer ini adalah hub, repeater, network adapter/network interface card, dan host bus adapter (digunakan di storage area network). Fungsi Physical Layer
1.      Memindahkan bit antar devices.
2.      Spesifikasinya berupa voltase, wire, speed, pin pada kabel.
3.      Mengirim bit dan menerima bit.
4.      Berkomunikasi langsung dengan jenis media transmisi.
5.      Representasi bit ini tergantung dari media dan protocol yang digunakan
6.      Menggunakan frekuensi radio
7.      State transition: perubahan tegangan listrik dari rendah ke tinggi dan sebaliknya
8.      Menentukan kebutuhan listrik, mekanis, prosedural dan fungsional, mempertahankan dan menonaktifkan hubungan fisik antarsistem.


OSI (open system interconetion) merupakan kumpulan layer-layer yang tidak saling bergantung namun saling berkaitan dengan yang lain. Karena setiap layer memiliki fungsi dan tugas yang berbeda dan saling mengisi satu dengan yang lain. Dimana semua layer berfungsi dan dipergunakan jika salah satu layer tidak digunakan maka tidak akan terbentuk jaringan. Adapun komponen pada 7 osi layer terdiri dari:
1.      Application layer
2.      Presentation layer
3.      Session layer
4.      Transport layer
5.      Network layer
6.      Data link layer
7.      Physical layer


Fungsi Masing-Masing Layer beserta Protokol dan Perangkatnya, Dari ke Tujuh Layer tersebut juga mempunyai Tugas dan Tanggung Jawab masing-masing, yaitu :
 1.      Physical Layer: Berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan, topologi jaringan dan pengabelan. Adapun perangkat-perangkat yang dapat dihubungkan dengan Physical layer adalah NIC (Network Interface Card) berikut dengan Kabel – kabelnya
 2.      DataLink Layer: Befungsi untuk menentukan bagaimana bit-bit data dikelompokkan menjadi format yangdisebut sebagai frame. Pada Layer ini terjadi koreksi kesalahan, flow control, pengalamatan perangkat keras seperti Halnya MAC Address, dan menetukan bagaimana perangkat-perangkat jaringan seperti HUB, Bridge, Repeater, dan Switch layer 2 (Switch un-manage) beroperasi. Spesifikasi IEEE 802, membagi Layer ini menjadi dua Layer anak, yaitu lapisan Logical Link Control (LLC) dan lapisan Media Access Control (MAC).
 3.      Network Layer: Berfungsi untuk mendefinisikan alamat-alamat IP, membuat header untuk paket-paket, dan kemudian melakukan routing melalui internetworking dengan menggunakan Router dan Switch layer-3 (Switch Manage).
 4.      Transport Layer: Berfungsi untuk memecah data ke dalam paket-paket data serta memberikan nomor urut ke paket-paket tersebut sehingga dapat disusun kembali pada sisi tujuan setelah diterima. Selain itu, pada layer ini juga membuat sebuah tanda bahwa paket diterima dengan sukses (acknowledgement), dan mentransmisikan ulang terhadp paket-paket yang hilang di tengah jalan.
 5.      Session Layer: Berfungsi untuk mendefinisikan bagaimana koneksi dapat dibuat, dipelihara, atau dihancurkan. Selain itu, di layer ini juga dilakukan resolusi nama.
 6.      Presentation Layer: Berfungsi untuk mentranslasikan data yang hendak ditransmisikan oleh aplikasi ke dalam format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan. Protokol yang berada dalam Layer ini adalah perangkat lunak redirektor (redirector software), seperti layanan Workstation (dalam Windows NT) dan juga Network shell (semacam Virtual Network Computing (VNC) atau Remote Desktop Protocol (RDP)).
 7.      Application Layer: Berfungsi sebagai antarmuka dengan aplikasi dengan fungsionalitas jaringan, mengatur bagaimana aplikasi dapat mengakses jaringan, dan kemudian membuat pesan-pesan kesalahan. Protokol yang berada dalam layer  ini adalah HTTP, FTP, SMTP, dan NFS.


OSI sendiri merupakan singkatan dari Open System Interconnection. Model ini disebut juga dengan model "Model tujuh lapis OSI" (OSI seven layer model). Sebelum munculnya model referensi OSI, sistem jaringan komputer sangat tergantung kepada pemasok (vendor). OSI berupaya membentuk standar umum jaringan komputer untuk menunjang interoperabilitas antar pemasok yang berbeda. Dalam suatu jaringan yang besar biasanya terdapat banyak protokol jaringan yang berbeda. Tidak adanya suatu protokol yang sama, membuat banyak perangkat tidak bisa saling berkomunikasi.



Model referensi ini pada awalnya ditujukan sebagai basis untuk mengembangkan protokol-protokol jaringan, meski pada kenyataannya inisatif ini mengalami kegagalan. Kegagalan itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
1.      Standar model referensi ini, jika dibandingkan dengan model referensi DARPA (Model Internet) yang dikembangkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF), sangat berdekatan. Model DARPA adalah model basis protokol TCP/IP yang populer digunakan.
2.      Model referensi ini dianggap sangat kompleks. Beberapa fungsi (seperti halnya metode komunikasi connectionless) dianggap kurang bagus, sementara fungsi lainnya (seperti flow control dan koreksi kesalahan) diulang-ulang pada beberapa lapisan.
3.      Pertumbuhan Internet dan protokol TCP/IP (sebuah protokol jaringan dunia nyata) membuat OSI Reference Model menjadi kurang diminati.


  2.      ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line)

Sebelum ADSL, kita sudah terlebih dulu mengenal sistem yang disebut dial-up. Sistem ini menggunakan sambungan kabel telepon sebagai jaringan penghubung dengan Internet Service Provider (ISP). Namun dalam penggunaannya, dial-up memiliki beberapa kekurangan. Seperti rendahnya kecepatan dalam mengakses Internet, terlebih di jam-jam tertentu yang merupakan waktu sibuk atau office hour. Selain itu, karena menggunakan sambungan telepon, kita tidak bisa menggunakan telepon bila sedang melakukan koneksi Internet. Penggunaan sambungan telepon juga memungkinkan tingginya tingkat gangguan atau noise bila sedang menggunakan Internet. Kekurangan lainnya adalah sistem penghitungan dial-up yang masih berdasarkan waktu dan masih dirasakan sangat mahal.



ADSL sendiri merupakan salah satu dari beberapa jenis DSL, disamping SDSL, GHDSL, IDSL, VDSL, dan HDSL. DSL merupakan teknologi akses Internet menggunakan kabel tembaga, sering disebut juga sebagai teknologi suntikan atau injection technology yang membantu kabel telepon biasa dalam menghantarkan data dalam jumlah besar. DSL sendiri dapat tersedia berkat adanya sebuah perangkat yang disebut DSLAM (DSL Acces Multiplexter). Untuk mencapai tingkat kecepatan yang tinggi, DSL menggunakan sinyal frekuensi hingga 1 MHz. Lain halnya untuk ADSL, sinyal frekuensi yang dipakai hanya berkisar antara 20 KHz sampai 1 MHz. Sementara untuk penggunaan ADSL di Indonesia dengan program Telkom Speedy, kecepatan yang ditawarkan berkisar antara 1024 kbps untuk downstream dan 128 kbps untuk upstream. Kecepatan downstream inilah yang menjadikan ADSL lebih cocok untuk kalangan rumah tangga. Karena pada kalangan rumah tangga umumnya lebih banyak kegiatan menerima, dibandingkan kegiatan mengirim. Seperti mendownload data, gambar, musik, ataupun video.


ADSL adalah kependekan dari Asymmetric Digital Subscriber Line, sebuah teknologi yang memungkinan data kecepatan tinggi dikirim melalui kabel telepon. ADSL memungkinkan untuk menerima data sampai kecepatan 1.5-9Mbps (kecepatan downstream) dan mengirim data pada kecepatan 16-640Kbps (kecepatan upstream).



ADSL membagi frekuensi dari sambungan yang digunakan dengan asumsi sebagian besar pengguna Internet akan lebih banyak mengambil (download) data dari  Internet dari pada mengirim (upload) ke Internet. Oleh karena itu, kecepatan data dari Internet biasa sekitar tiga sampai empat kali kecepatan ke Internet. Karena kecepatan upstream dan downstream tidak sama digunakan istilah Asymmetric.
ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) adalah teknologi koneksi internet yang menggunakan infrastruktur dari perusahaan telepon sekaligus merupakan teknologi koneksi internet yang paling populer dan banyak digunakan. Ada beberapa tipe koneksi DSL seperti VDSL dan ADSL, namun ADSL adalah yang paling banyak digunakan dibanyak negara termasuk Indonesia.

ADSL sendiri merupakan salah satu anggota dari “DSL Family”. Teknologi x-DSL sendiri mempunyai berbagai macam variasi, yaitu:
1.      Asymmetrical Digital Subscriber Line (ADSL)
2.      Consumer Digital Subscriber Line (CDSL)
3.      ISDN-Digital Subscriber Line (IDSL)
4.      High bit rate Digital Subscriber Line (HDSL)
5.      Single High Speed DSL (SHDSL)
6.      Rate-adaptive Digital Subscriber Line (RADSL)
7.      Very High bit-rate Digital Subscriber Line (VDSL)
8.      Single or Symmetric Digital Subscriber Line (SDSL)

ADSL sendiri memiliki bermacam-macam jenis dengan kecepatan, jenis router, USB dan perangkat lain yang ada di dalamnya. Misalnya ada yang dapat dipakai untuk dua komputer dengan menggunakan sambungan USB, tapi ada juga yang dapat digunakan untuk empat komputer dengan koneksi LAN Ethernet. penting lain yang dimiliki oleh modem ADSL adalah adanya lampu indikator yang berguna mengetahui jalannya proses koneksi yang terjadi.
Umumnya lampu yang ada pada modem ADSL adalah lampu PPP, Power, DSL. Ada juga lampu tambahan bila kita menggunakan koneksi Ethernet dan USB.Dari tiga lampu indikator yang ada pada modem, yang terpenting adalah lampu PPP dan DSL. Di mana lampu DSL menunjukkan koneksi sudah terhubung dengan baik pada line. Sementara lampu PPP menunjukkan adanya arus data ketika seseorang melakukan browsing. Setelah perangkat lengkap, hal yang penting dalam penggunaan ADSL di Indonesia adalah penggunaan IP modem dan password. Hal ini digunakan untuk melindungi penggunaan layanan bagi konsumen yang diberikan oleh provider. IP yang kita miliki akan menjadi gerbang untuk memasuki jaringan. Jika kita merubah password untuk login, maka kita perlu memasukkan kembali sesuai perubahan yang dilakukan. Bila seluruh proses ini berhasil dilalui, maka selanjutnya kita sudah dapat berkoneksi Internet dengan ADSL.


Kelebihan Dan Kekurangan ADSL
Beberapa kelebihan ADSL, diantaranya yaitu:
a.      Memiliki pembagian frekwensi menjadi 2 (dua) macam diantaranya frekwensi tinggi untuk menghantarakna data dan frekwensi rendah untuk menghantarkan suara maupun fax.
b.      Untuk di Indonesia pelanggan yang menggunakan Spidiy, maka ADSL membuat kegiatan ber-Internet menjadi lebih hemat. Sehingga dapat melakukan akses internet tanpa mengkhawatirkan tagihan yang terlalu mahal.
c.       Layanan komunikasi antara data dan suara diberikan melalui 2 (dua) kanal yang memang terpisah akan tetapi tetap pada satu kabel yang sama.
d.      Koneksi ADSL selalu tersambung dengan internet setiap saat dan telepon tetap dapat digunakan kapan saja.
e.      Dan kecepatan internet yang selalu stabil.

Beberapa kekuranga ADSL, diantaranya yaitu:
a.      Jarak dapat berpengaruh pada kecepatan pengiriman data. Semakin jauh jarak antara modem dengan komputer atau saluran telepon dengan gardu telepon, maka akan berpengaruh pada kecepatan dalam menakses internet.
b.      Adanya load coils yang digunakan untuk memberi layanan ke plosok-plosok daerah, sehingga load coils akan menggeser frekwensi suara ke frekwensi yang biasanya digunakan ADSL. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya interfensi maupun ketidak cocokan jalur pada ADSL.
c.       Adanya bridge tap yang merupakan kabel tidak berada pada jalur langsung antara pelanggan dengan CO. Jadi bridge tap dapat menimbulkan noise yang nantinya dapat mengganggu kinerja dari ADSL.
d.      Kaerena seiring berkembangnya jaman penggunaan kabel fiber optik pada saluran telepon digital sudah mulai digunakan. Hal ini tidak sesuai dengan sistem teknologi ADSL yang masih menggunakan saluran analog (kabel tembaga), sehingga pada saat ini masih cukup sulit mengirimkan sinyal melalaui kabel fiber optik.
e.      Kecepatan koneksi modem ADSL hingga saat ini masih sangat tergantung dengan tiang telepon atau DSLAM dan tidak semua sistem operasi komputer dapat menggunakan ADSL.


  3.      SDSL (Symmetric Digital Subscriber Line)

Symmetric Digital Subscriber Line adalah layanan akses Internet kecepatan tinggi dengan pencocokan upstream dan downstream kecepatan data. Artinya, data dapat dikirim ke Internet dari mesin klien atau diterima dari Internet dengan ketersediaan bandwidth yang sama di kedua arah. Dari fitur ini kita bisa tahu bahwa layanan ini sangat baik dari segi kecepatan.



Biasanya, layanan DSL adalah asimetris (ADSL), dengan sebagian besar bandwidth yang disediakan untuk menerima data, tidak mengirimnya. Layanan SDSL biasanya digunakan oleh perusahaan dengan kehadiran kebutuhan Web, VPN, extranet atau intranet. Dalam kasus ini client server mungkin diperlukan untuk meng-upload sejumlah besar data ke Internet secara teratur. ADSL akan lambat dan tidak memadai untuk tujuan ini, karena bandwidth yang tersedia untuk upload biasanya kurang dari 1 megabit per detik (mbps). Bandwidth yang SDSL bisa setinggi 7 mbps di kedua arah.


SDSL menggunakan frekuensi digital dalam perjalanan lintas telepon untuk mengirim dan menerima data. Bila menggunakan saluran telepon untuk SDSL, line telepon dan faks harus dihentikan. Oleh karena itu line khusus, atau tambahan diperlukan untuk layanan SDSL. Ini berbeda dari ADSL, yang “menyisakan ruang” untuk kedua peralatan telepon analog standar dan sinyal digital, sehingga seseorang dapat berbicara di telepon atau menggunakan mesin fax saat online.
Layanan SDSL adalah layanan “always on”, yang berarti bahwa komputer ini aktif terhubung ke Internet. Jika komputer aktif, koneksi internet akan terus aktif. SDSL memerlukan layanan modem SDSL, biasanya diberikan oleh penyedia layanan Internet. Modem SDSL kemungkinan akan membutuhkan same-vendor peralatan di LAN, DSL atau chipset.


1.      Kelebihan SDSL
a.      Bandwidth yang disalurkan simetrik dalam arti kecepatan upload dan download sama sesuai paket layanan yang pelanggan pilih sebelumnya.
b.      Delay rendah.
c.       Tidak bergantung dan tidak mengganggu pada saluran telepon yang ada.

2.      Kekurangan SDSL
a.      Jika tidak menggunakan sistem anti petir (grounding) yang baik maka akan boros modem (terkena petir terus).
b.      Kabel diputus orang lain.
c.       Modemnya lebih mahal dari modem ADSL.
d.      Hanya dapat digunakan pada saluran sepanjang 10 kft.


layanan DSL adalah asimetris (ADSL), dengan sebagian besar bandwidth yang disediakan untuk menerima data, tidak mengirimnya. Layanan SDSL biasanya digunakan oleh perusahaan dengan kehadiran kebutuhan Web, VPN, extranet atau intranet. Dalam kasus ini client server mungkin diperlukan untuk meng-upload sejumlah besar data ke Internet secara teratur. ADSL akan lambat dan tidak memadai untuk tujuan ini, karena bandwidth yang tersedia untuk upload biasanya kurang dari 1 megabit per detik (mbps). Bandwidth yang SDSL bisa setinggi 7 mbps di kedua arah.
Sebuah penawaran penyedia layanan SDSL menawarkan nilai yang berbeda untuk berbagai harga. Semakin cepat laju data, semakin mahal harga layanannya. Biasanya, kontrak jangka panjang yang diperlukan untuk layanan SDSL terlepas dari kelas yang dipilih.


  4.      WIFI (Wireless Fidelity)

Wi-Fi merupakan kependekan dari “Wireless Fidelity”, memiliki pengertian yaitu sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks – WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Standar terbaru dari spesifikasi 802.11a atau b, seperti 802.16 g, saat ini sedang dalam penyusunan, spesifikasi terbaru tersebut menawarkan banyak peningkatan mulai dari luas cakupan yang lebih jauh hingga kecepatan transfernya. Awalnya Wi-Fi ditujukan untuk pengunaan perangkat nirkabel dan Jaringan Local (LAN), namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses internet. Hal ini memungkinan seseorang dengan komputer dengan kartu nirkabel (wireless card) atau personal digital assistant (PDA) untuk terhubung dengan internet dengan menggunakan access point (hotspot) terdekat. Spesifikasi Wi-Fi dirancang berdasarkan spesifikasi IEEE 802.11. Sekarang ini ada empat variasi dari 802.11, yaitu: 802.11a, 802.11b, 802.11g, and 802.11n. Spesifikasi b merupakan produk pertama Wi-Fi. Di banyak bagian dunia, frekuensi yang digunakan oleh Wi-Fi, pengguna tidak diperlukan untuk mendapatkan ijin dari pengatur lokal.




Secara spesifik, proses sertifikasi memerlukan pemenuhan standar radio IEEE 802.11, standdar keamanan WPA dan WPA2, dan standar autentikasi EAP. Sertifikasi opsionalnya meliputi pengujian standar draf IEEE 802.11, interaksi dengan teknologi telepon seluler pada peralatan konvergen, dan fitur-fitur keamanan, multimedia, dan penghematan tenaga.
Tidak semua peralatan Wi-Fi dikirim untuk mendapatkan sertifikasi. Kurangnya sertifikasi Wi-Fi tidak berarti bahwa sebuah alat tidak kompatibel dengan alat Wi-Fi lainnya. Jika alat tersebut memenuhi syarat atau setengah kompatibel, Wi-Fi Alliance tidak perlu berkomentar terhadap penyebutannya sebagai sebuah alat Wi-Fi, meskipun secara teknis hanya alat yang bersertifikasi yang disetujui. Istilah seperti Super Wi-Fi, yang dicetuskan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS untuk mendeskripsikan rencana jaringan pita TV UHF di Amerika Serikat, dapat disetujui atau tidak.


Di banyak bagian dunia, frekuensi yang digunakan oleh Wi-Fi, pengguna tidak diperlukan untuk mendapatkan ijin dari pengatur lokal (misal, Komisi Komunikasi Federal di A.S.). 802.11a menggunakan frekuensi yang lebih tinggi dan oleh sebab itu daya jangkaunya lebih sempit, lainnya sama.Versi Wi-Fi yang paling luas dalam pasaran AS sekarang ini (berdasarkan dalam IEEE 802.11b/g) beroperasi pada 2.400 MHz sampai 2.483,50 MHz. Dengan begitu mengijinkan operasi dalam 11 channel (masing-masing 5 MHz), berpusat di frekuensi berikut:
  1.      Channel 1 – 2,412 MHz;
  2.      Channel 2 – 2,417 MHz;
  3.      Channel 3 – 2,422 MHz;
  4.      Channel 4 – 2,427 MHz;
  5.      Channel 5 – 2,432 MHz;
  6.      Channel 6 – 2,437 MHz;
  7.      Channel 7 – 2,442 MHz;
  8.      Channel 8 – 2,447 MHz;
  9.      Channel 9 – 2,452 MHz;
  10.  Channel 10 – 2,457 MHz;
  11.  Channel 11 – 2,462 MHz.



Secara teknis operasional, Wi-Fi merupakan salah satu varian teknologi komunikasi dan informasi yang bekerja pada jaringan dan perangkat WLANs (wireless local area network). Dengan kata lain, Wi-Fi adalah nama dagang (certification) yang diberikan pabrikan kepada perangkat telekomunikasi (Internet) yang bekerja di jaringan WLANs dan sudah memenuhi kualitas interoperability yang dipersyaratkan.
Teknologi Internet berbasis Wi-Fi dibuat dan dikembangkan sekelompok insinyur Amerika Serikat yang bekerja pada Institute of Electrical and Electronis Engineers (IEEE) berdasarkan standar teknis perangkat bernomor 802.11b, 802.11a dan 802.16. Perangkat Wi-Fi sebenarnya tidak hanya mampu bekerja di jaringan WLAN, tetapi juga di jaringan Wireless Metropolitan Area Network (WMAN).
Karena perangkat dengan standar teknis 802.11b diperuntukkan bagi perangkat WLAN yang digunakan di frekuensi 2,4 GHz atau yang lazim disebut frekuensi ISM (Industrial, Scientific dan Medical). Sedang untuk perangkat yang berstandar teknis 802.11a dan 802.16 diperuntukkan bagi perangkat WMAN atau juga disebut Wi-Max, yang bekerja di sekitar pita frekuensi 5 GHz.


Perancangan teknologi Wi-Fi didasari pada peraturan spesifikasi IEEE 802.11 yang hingga saat terdiri dari empat variasi dari 802.11, yang adalah:
1. 802.11a
2. 802.11b
3. 802.11g
4. 802.11n

Variasi spesifikasi di atas memiliki kemampuan yang berbeda-beda terutama pada segi kecepatan akses data. Perlu diketahui variasi spesifikasi Wi-Fi g dan n merupakan yang terbaru diaplikasikan pada perangkat pertama kali pada tahun 2005. Berikut ini kami sertakan tabel dari variasi Wi-Fi beserta masing-masing kemampuannya.

Spesifikasi    Kecepatan    Frekuensi Band    Kompatibilitas
802.11b           11 Mb/s           2.4 GHz           B
802.11a           54 Mb/s           5 GHz               A
802.11g           54 Mb/s           2.4 GHz           b,g
802.11n           100 MB/s        2.4 GHz           b,g,a

Secara teknis operasional, Wi-Fi merupakan salah satu varian teknologi komunikasi dan informasi yang bekerja pada jaringan dan perangkat WLAN. Bisa dikatakan pula bahwa Wi-Fi adalah sertifikasi merek dagang yang diberikan pabrikan kepada sebuah perangkat telekomunikasi dan internet yang dapat bekerja pada jaringan WLAN dan telah memenuhi kualitas dan memenuhi semua persyaratan yang berlaku.


Kelebihan teknologi wireless :
  1.      Mobilitas, bisa digunakan kapan sajadan kemampuan akses data pada jaringan wireless itu real time, selama masih di area hotspot.
   2.      Kecepatan Instalasi, proses pemasangan cepatdan tidak perlu menggunakan kabel.
   3.      Fleksibilitas Tempat, bisa menjangkau tempat yang tidak mungkin dijangkau kabel.
   4.      Jangkauan luas.
  5.      Biaya pemeliharannya murah (hanya mencakup stasiun bukan seperti pada jaringan kabel yang mencakup keseluruhan kabel).
   6.      Infrastrukturnya berdimensi kecil.
   7.      Mudah dikembangkan.
   8.      Mudah & murah untuk direlokasi dan mendukung portabelitas.

Kelemahan teknologi wireless :
   1.      Transmit data kecil, sedangkan jika menggunakan kabel akan lebih cepat.
   2.      Alatnya cukup mahal.
   3.      Mudah terjadi gangguan antara pengguna yang lain (Interferensi Gelombang).
   4.      Kapasitas jaringan terbatas.
   5.      Keamanan data kurang terjamin.
   6.      Intermittence (sinyal putus-putus)
   7.      Mengalami gejala yang disebut multipath yaitu propagasi radio dari pengirim ke penerima melalui banyak jalur yang LOS.
   8.      Mempunyai latency yang cukup besar dibandingkan dengan media transmisi kabel.


  5.      HAL-HAL YANG MEMPERNGARUHI SINYAL WIFI

WI-FI pada prinsip kerjanya, adalah sambungan 'face to face' yang dapat bekerja maksimal tanpa adanya penghalang. Apabila ada penghalang setipis apapun itu juga termasuk salah satu sebab yang mempengaruhi kualitas tangkapan signal maupun segi transfer data-nya. Lalu apa saja yang umum diketahui tentang penghalang signal wifi itu sendiri ? , agar nanti para pengguna smartphone android khususnya dan pengguna gadget lainnya dapat mengambil pelajaran tentang cara kerja dan penghalang kekuatan signal wifi supaya dapat mengakses jaringan dengan lancar dan nyaman. Adapun hal – hal yang dapet mempengaruhi sambungan WIFI sebagai berikut:
  1.      Tembok, Mengapa tembok menjadi nomor 1 dalam pembahasan penghalang signal wifi ?, Sudah tidak dipungkiri bahwa bangunan masyarakat sekarang ini bukanlah terbuat dari anyaman bambu seperti jaman dahulu. Dimana Tembok dan bangunan bertingkat dari campuran semen menjadi suatu yang tidak dapat dihindari. Para pengguna wifi dengan jangkauan 2 meter -pun akan merasakan penurunan kualitas bila ada tembok menghalangi antara kedua perangkat ( perangkat pemancar wifi ( hotspot ) dan perangkat penerima wifi ). Semakin tebal tembok semakin memperlemah signal dan transfer datanya. Jadi apabila pengguna wifi atau penerima signal hotspot merasa sinyal-nya turun walau ada di suatu area yang berdekatan silahkan dilihat dahulu berapa jumlah baris tembok yang menghalangi. semakin banyak sekat tembok maka semakin lemah pula daya tangkap signal.
  2.      Hujan, Mengapa hujan bisa menyebabkan melemahnya signal tangkapan wifi ?. Logikanya seperti ini, Bila ponsel anda emangkap signal dari jarak 20 meter umpamanya, dan ketika itu ada hujan dengan curah air yang lebat maka hujan tersebut akan menjadi perisai antara anda dan pemancar wifi. Semakin lebat hujan semakin memperlemah tangkapan signalnya.
  3.      Benda yang bergerak. Maksudnya disini bila anda berada di area tertentu seperti di luar ruangan dan anda mendapat signal lurus dari seberang jalan rumah anda tentu akan ada kendaraan yang lalu lalang menjadi penghalang. Walau kendaraan tersebut tidak berhenti tepat di depan anda dan berjalan sebagaimana mestinya, namun kendaraan tersebut seperti mobil, truk ataupun lainnya akan tetap menjadi penghambat signal wifi. semakin padat dan merayap kendaraan sebagai penghalang maka semakin tidak stabil pula sinyal wifi yang anda dapatkan.
  4.      Pepohonan, Pohon sebagaimana penghalang lainnya juga luput dari perhatian penghalang signal wifi. Padahal semakin rimbun dan besar Pepohonan yang menjadi penengah antara anda dan pemancar signal wifi ( hotspot ) maka semakin tinggi pula kemungkinan penurunan signal wifi pada ponsel anda.


  5.      Penempatan perangkat Access Point, Perangkat Access Point (AP) adalah perangkat yang berfungsi untuk memancarkan dan menerima gelombang radio.Penempatan perangkat AP sangat menentukan kualitas jaringan Wi-Fi. Perangkat AP harus diletakkan di posisi yang tepat sehingga dapat memberikan kualitas sinyal radio yang baik untuk semua perangkat penerima baik smartphone ataupun komputer.
 6.      Jumlah pengguna, Banyaknya pengguna sangat mempengaruhi kualitas jaringan Wi-Fi. Jumlah pengguna ditentukan bukan hanya dari jumlah orang yang menggunakan jaringan Wi-Fi, tetapi ditentukan dari banyaknya jumlah perangkat penerima yang menggunakan jaringan tersebut. Asumsi umum yang digunakan dalam perhitungan jumlah pengguna adalah satu orang biasanya menggunakan dua buah perangkat penerima, yaitu satu smartphone dan satu komputer. Dengan mengetahui jumlah pengguna secara tepat, kita dapat melakukan pemilihan perangkat jaringan yang sesuai sehingga kualitas jaringan yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan seluruh pengguna.
  7.      Jenis aplikasi yang digunakan, Faktor lain yang mempengaruhi kualitas jaringan Wi-Fi adalah jenis aplikasi yang digunakan. Secara umum, aplikasi yang digunakan dapat dibedakan menjadi 4 (empat) tipe, yaitu suara (voice call), video (video call), best effort (aplikasi lain selain suara dan video), dan aplikasi background (aplikasi lain yang tidak memerlukan pertukaran data yang cepat, misalnya email atau file download). Dengan mengetahui jenis aplikasi yang digunakan, kita dapat memperhitungkan dengan tepat kebutuhan bandwidth yang optimal untuk jaringan tersebut. Penggunaan bandwidth yang optimal akan memberikan kualitas jaringan Wi-Fi yang baik kepada seluruh pengguna sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


  8.      Jarak, Tentu hal ini sudah sangat jelas sekali. Jarak antara pemancar sinyal wi-fi dan penerima sangat akan menentukan kualitasnya. Semakin dekat maka akan semakin kuat, dan sebaliknya jika antara kedua perangkat (Wi-fi access point dan Wi-fi client) berada pada jarak yang berjauhan maka sinyal akan semakin lemah.
  9.      Kekuatan sinyal pemancar, Dari sisi pemancar juga perlu diperhatikan. Karena besarnya daya pancar yang dihasilkan dari antenna akan sangat berpengaruh pada sisi penerimanya. Sejatinya kekuatan sinyal akan semakin berkurang ketika sampai pada penerimanya. Faktor interferensi dan jarak adalah penyebab utamanya. Jadi, semakin kuat sinyal yang dipancarkan oleh sebuah access point, maka akan semakin besar sinyal yang diterima oleh penerima (wi-fi client).
 10.  Receive sensitivity, Dalam hal ini, penerima juga memiliki peran yang sangat berpengaruh. Sebab kemampuan penerima (receiver) akan menentukan kualitas sinyal yang diterima. Kemampuan itu ditentukan oleh batas minimal
sinyal yang bisa diterima oleh penerima dari pemancar. Semakin kecil
batas minimal sinyal yang bisa diterima semakin bagus kualitas sinyal
yang ditangkap. Receive sensitivity bisa juga diartikan sebagai batas terkecil dari kuat sinyal yang mampu diterima oleh suatu perangkat wi-fi.
 11.  Interferensi (gangguan sinyal), Interferensi ini sering terjadi karena penggunaan channel frequency yang sama oleh dua bahkan lebih perangkat wi-fi, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan gangguan atau hambatan terhadap satu sama lainnya. Jadi, yang perlu diingat adalah jika ada dua access point pastikan keduanya itu beroperasi pada channel yang berbeda.
 12.  LOS (Line of Sight), LOS merupakan sebuah kondisi dimana pada area yang berupa garis lurus antara pemancar sinyal dan penerima tidak terhalang oleh benda atau sesuatu apapun. Kesempatan mendapat sinyal yang kuat bisa kita dapat jika penghalang atara kedua perangkat masih berukuran kecil, bahkan tidak ada sama sekali (ini lebih baik). Jenis material yang menghalangi juga sangat menentukan.


  13.  Jenis Antena, Antena yang mempunyai sudut pancar lebih sempit akan mempunyai kualitas sinyal yang lebih baik, misalnya antena omni dibandingkan dengan antena sectoral, tentu sinyal dari antena sectoral akan lebih baik. begitu juga antena directional akan labih baik dari sectoral. antena omni akan memancarkan sinyal ke segala arah, tetapi menerima interferensi dari segala arah juga. sudut pancar suatu antena dipandang dari dua sisi, yaitu vertical beamwidth (v-beam) dan horizontal beamwidth (h-beam) semakin besar gain suatu antena, maka beamwidth akan semakin sempit. antena omni 3 db v-beam nya akan jauh lebih besar daripada antena dg gain 15db. sehingga  jika kita bandingkan antena 3 db dengan antena 15db dalam 1 tower, kemudian kita pantau sinyalnya dari bawah tower, maka sinyal akan lebih besar antena 3 db. tetapi jangkauan terjauhnya masih lebih baik antena yg 15db
  14.  Radio AP, Radio AP datang dari berbagai merk dan model. tentu mempunyai kualitas yang berbeda-beda pula. Kualitas Ap ini juga berbeda-beda walupun satu merk dan satu model. Misalnya jika kita membeli selusin AP dgn merk/model yang sama, kemudian kita lakukan test satu per satu, hasilnya juga kemungkinan besar berbeda-beda. ada yang sangat bagus ada yang kurang, dan ada juga yang buruk, jika dilihat dari sinyal dang dipancarkan (TX) dan sensitifitas penerimaannya (RX)
Ada beberapa type ap yang hanya bagus di sinyal keluaran / TX, tapi kurang peka/ budeg di sisi penerimaan. Ada AP yang hanya bagus digunakan untuk koneksi point-to-point, tapi kurang bagus untuk koneksi multi client.
  15.  Interferensi Frekuensi, Interferensi terkait penggunaan channel, yang erat kaitannya dengan channel width jika kita menggunakan channel witdh 5MHz, maka kita akan mempunyai 11 channel yang tidak saling interferensi. tapi jika kita memakai channel width 20MHz, maka untuk country Indonesia, hanya ada 3 channel yang tidak saling interferensi, yaitu Ch1, Ch6, dan Ch11 Interferensi di suatu lokasi, jika dilihat dari jenis polarisasinya akan mempunyai tingkatan yang berbeda. Ambil suatu kasus dimana suatu lokasi disitu sudah banyak yang memakai antena dengan polarisasi horizontal, maka intensitas inteferensi horizontal lebih tinggi daripada vertical. jika kita memaksakan kita memakai polarisasi horizontal, yang terjadi sinyal akan saling mengganggu/intereferensi. pada kasus seperti ini kita sebaiknya menggunakan polarisasi vertical, begitu juga pada sebaliknya.


  6.      SETTING IP ADRESS

IP Adress merupakan deretan bilangan biner di antara 32 bit hingga 128 bit yang dipakai sebagai media untuk mengidentifikasi untuk setiap perangkat komputer yang terhubung pada jaringan komputer (intranet / internet). Bilangan biner 32 bit dipakai untuk setiap IP Address versi IPv4, sedangkan bilangan biner 128 bit digunakan untuk setiap versi IP Address IPv6. IP Address nantinya akan berguna sebagai data identifikasi setiap device (komputer dan perangkat lainnya) yang terhubung ke jaringan komputer yang memanfaatkan internet protocol sebagai media penghubungnya.



Fungsi IP Address, beberapa fungsi dasar dari sebuah IP Address, yaitu :
  1.      Alat Identifikasi Host atau antar muka pada jaringan komputer
Fungsi IP Address yang pertama adalah sebagai alat identifikasi host ataupun antar muka jaringan komputer. Jika diilustrasikan seperti kehidupan nyata, maka IP Address berfungsi sebagai nama ataupun identitas seseorang. Dalam hal ini, seperti halnya nama, setiap komputer memiliki IP Address yang unik da berbeda antara datu dengan yang lainnya (yang terkoneksi pada satu jaringan komputer).
  2.      Alamat Lokasi Jaringan
Fungsi IP Address yang kedua adalah sebagai penunjuk alamat lokasi jaringan. Jika kita ilustrasikan kembali dalam kehidupan nyata, maka IP address dapat diilustrasikan sebagai penunjukkan alamat rumah tempat tinggal seseorang. IP Address akan menunjukkan lokasi keberadaan sebuah komputer, berasal dari daerah mana, ataupun negara mana. Dalam hal ini, seperti halnya dalam kehidupan nyata, ada rute / jalan yang harus ditempuh agar data yang diinginkan bisa sampai ke komputer yang ingin dituju.


IP juga didesain untuk dapat melewati berbagai media komunikasi yang memiliki karakteristik dan kecepatan yang berbeda-beda. Setiap paket IP membawa data yang terbagi dalam beberapa bagian Yaitu :
1.      Version Adalah versi dari protokol IP yang dipakai.
2.      Header Length berisi panjang dari header paket IP dalam hitungan 32 bit word.
3.      Type of Service berisi kualitas service yang dapat mempengaruhi cara penanganan paket IP.
4.      Total length Of Datagram adalah panjang IP datagram total dalam ukuran byte.
5.      Identification, Flags, dan Fragment Off set berisikan data yang berhubungan fragmentasi paket.
6.      Time to Live berisi jumlah router/hop maksimal yang dilewati paket IP (datagram). Nilai maksimum.
7.      field ini adalah 255. Setiap kali paket IP lewat satu router, isi dari field ini dikurangi satu. Jika TTL   telah habis dan paket tetap belum sampai ke tujuan, paket ini akan dibuang dan router terakhir akan mengirimkan paket ICMP time exceeded. Hal ini dilakukan untuk mencegah paket IP terus menerus berada dalam network.
8.      Protocol mengandung angka yang mengidentifikasikan protokol layer atas pengguna isi data dari paket IP ini.
9.      Header Checksum berisi nilai checksum yang dihitung dari jumlah seluruh field dari header paket IP. Sebelum dikirimkan, protokol IP terlebih dahulu menghitung checksum dari header paket IP tersebut untuk nantinya dihitung kembali di sisi penerima. Jika terjadi perbedaan, maka paket ini dianggap rusak dan dibuang.
10.  Source Address dan Destination, Address isi dari masing-masing field ini cukup jelas, yakni alamat pengirim dan alamat penerima dari datagram. Masing-masing field terdiri dari 32 bit, sesuai panjang IP Address yang digunakan dalam Internet. Destination address merupakan field yang akan dibaca oleh setiap router untuk menentukan kemana paket IP tersebut akan diteruskan untuk mencapai destination address tersebut.


Kelas – Kelas pada IP Adress
1.      KELAS A , pada kelas A 8 bit pertama adalah network Id, dan 24 bit selanjutnya adalah host Id,kelas A meiliki network Id dari 0 sampai 127.
2.      KELAS B , pada kelas B 16 bit pertama adalah network Id, dan 16 bit selanjutnya adalah host Id, kelas B memiliki network id dari 128 sampai 191
3.      KELAS C, pada kelas C 24 bit pertama adalah network Id, dan 8 bit selanjutnya adalah host Id, kelas C memiliki network id dari 192 sampai 223
4.      KELAS D, IP kelas D digunakan untuk multicasting, yaitu penggunaan aplikasi secara bersama-sama oleh beberapa komputer, dan IP yang bisa digunakan adalah 224.0.0.0 – 239.255.255.255
5.      KELAS E,  memiliki range dari 240.0.0.0 – 254.255.255.255, IP ini digunakan untuk eksperimen yang dipersiapkan untuk penggunaan IP address di masa yang akan datang.


Berikut adalah jenis – jenis dari IP Adress:
1.      IP versi 4 (IPv4)
Internet protocol version 4 atau IPv4 terdiri dari 32-bit dan bisa menampung lebih dari 4.294.967.296 host di seluruh dunia. Sebagai contoh yaitu 172.146.80.100, jika host di seluruh dunia melebihi angka 4.294.967.296 maka dibuatlah IPv6.
2.      IP versi 6 (IPv6)
IPv6 diciptakan untuk menjawab kekhawatiran akan kemampuan IPv4 yang hanya menggunakan 32 bit untuk menampung IP Address di seluruh dunia, semakin banyaknya pengguna jaringan internet dari hari ke hari di seluruh dunia IPv4 dinilai suatu saat akan mencapai batas maksimum yang dapat ditampungnya, untuk itulah IPv6 versi 128 bit diciptakan.



Dengan kemampuanya yang jauh lebih besar dari IPv4 dinilai akan mampu menyediakan IP Address pada seluruh pengguna jaringan internet di seluruh dunia yang semakin hari semakin banyak. Internet protocol versi 6 atau IPv6 ini terdiri dari 128 bit. IP ini 4 kali dari IPv4, tetapi jumlah host yang bisa ditampung bukan 4 kali dari 4.294.967.296 melainkan 4.294.967.296 pangkat 4, jadi hasilnya 340. 282. 366. 920. 938. 463. 463. 374. 607. 431.768.211.456.
Komputer sebenarnya hanya mengenal pengkodean on dan off (digital), oleh karenanya semua data yang dikirim dan terima adalah bilangan biner (hanya nol dan satu). Misalnya ketika mengirim huruf Z maka melalui media kabel utp diciptakan kondisi on dan off yang sangat cepat (ketika kabelnya dialiri listrik dianggap 1 dan ketika tidak dialiri listrik dianggap 0) sehingga membentuk angka angka biner 10100100. Setelah data biner sampai ke komputer tujuan barulah diterjemahkan kembali kedalam bentuk huruf.
Sama seperti hal diatas, bentuk IP Address yang berupa bilangan desimal sebenarnya adalah bilangan biner yang diterjemahkan agar mudah di ingat manusia. pada setiap titik pemisah ip address adalah terdiri dari 8 bilangan biner sehingga totalnya menjadi 32 bit biner.
contoh penulisan ip address = 192.168.1.1 padahal sebenarnya adalah = 11000000.10101000.00000001.00000001


Cara mengatur settingan IP Adress
1.      Klik kanan icon network anda
Jika anda menggunakan wifi icon akan berbentuk seperti sinyal / wifi
Jika anda menggunakan kabel LAN icon akan berbrntuk seperti gambar berikut




2.      Pilih “Open Network and Sharing Center”



3.      Lalu klik pada network yang anda gunakan



4.      Lalu pilih “Details..”
Untuk cara no 4 & 5 hanya di lakukan jika di tempat anda terdapat koneksi internet, jika tidak ada langsung menuju step ke-6.


5.      Lalu catat pada bagian IPv4 Address
Pada step ini anda perlu mencatat IP anda dan Gateway anda, agar anda bisa tetap bisa terhubung dengan internet


6.      Pilih Properties


7.      Pilih / Double klik pada “Internet Protocol Version 4 (TCP/IPv4)”


8.      Lalu pilih Pilih “Use the followong IP address“.
Jika di tempat anda terdapat koneksi internet anda bisa isi IP anddress, Subnet mask dan Default Geteway seperti yang tertera sebelumnya (pada no 5).
Jika di tempat anda terdapat tidak terdapat koneksi internet anda bisa isi sesuai berikut :
IP Address : 192.168.1.2
Subnet mask : 255.255.255.0
Default Gateway : 192.168.1.1
dan untuk settingan client bisa isi sama seperti di atas hanya bisa IP addressnya saja, bisa di isi urut 192.168.1.3 dst.
Jika sudah selesai klik OK


9.      Pilih Ok lagi.
Komputer anda sudah tersetting ipnya.



Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.